Sunday, November 01, 2009
posted by tyasjune at 8:10 AM





Taraaa.........Surat Tjintah yang dinanti-nanti member KBB semua akhirnya datang juga … Kita akan berkutat degnan WHITE BREAD, sodari-sodari…!
Kira kira mudah atau sulit ya membuatnya..? pastinya byk bertanya-tanya bukan? Yang jelas resepnya cukup unik, karena kita akan menghitung sendiri seberapa banyak bahan-bahan yang akan dibutuhkan nanti. Cara ini disebut dengan Baker’s Percentage. Apa itu Baker's Percentage? Supaya tidak bingung, terlebih dahulu silahkan dibaca dan dipahami file Bakers Percentage.doc dibawah ini yaaaa......

Baker’s Percentage

Jangan panik dulu… Baker’s Percentage mudah koq, tidak sesulit yang dibayangkan.

Baker’s Percentage (BsP) adalah cara penghitungan yang biasa dipakai oleh para professional bread baker. Mereka biasanya tidak menggunakan istilah resep tetapi menggunakan istilah formula. Formula ini menunjukkan proporsi dasar bahan-bahan, terhitung dan diekspresikan sebagai hitungan persen walaupun BsP bukan merupakan hitungan persentasi sebenarnya yang jumlah total adalah 100%. BsP ini menghitung bahan-bahan baik kering atau basah dalam satuan berat, baik metric atau imperial. BsP menggunakan berat tepung sebagai acuan dasarnya.

Keuntungan dari penggunaan BsP ini dengan sekali melihat, BsP:
1. memudahkan untuk memperbesar atau memperkecil jumlah bahan sesuai yang dibutuhkan

Penggunaan BsP ini dapat diterapkan secara langsung dan mudah sekali. Ukuran dari formula dapat dikali atau dibagi sesuai kebutuhan dan langsung menggunakan satuan ukuran berat. BsP dapat dikalikan langsung dan diganti dengan ukuran satuan berat. Di dalam proses industri, biasanya ukuran besar seperti dalam kg. Misalnya kita hendak membuat roti dengan ukuran tepung 25kg, BsP tersebut tinggal dibagi menjadi empat dan berat dalam satuan kg.

Terkecuali, jika berat salah satu bahan terlalu kecil untuk timbangan kita, mau tak mau, kita harus menggunakan ukuran sendok teh atau makan dan berat tersebut dapat dikonversikan menjadi ukuran volume. Cara lainnya yang dapat dilakukan, jika timbangan minimum 10g dan kita hanya butuh 2g, kita dapat menimbang bahan tersebut seberat 10g dan membagi 5. Selama bahan tersebut bukan bahan kritikal seperti pengawet, perbedaan sedikit pada berat tidak akan berpengaruh banyak terhadap hasil akhir.


2. membandingkan formula yang berbeda tanpa harus menghitung proporsi lagi karena berdasarkan satu dasar hitungan, yaitu berat tepung

Jika kita sedang membuat formula baru untuk product development dan formula tersebut berdasarkan formula lama/dasar, kita bisa menambah atau mengurangi berat bahan dengan mengetahui bahwa berat tersebut tidak akan menyebabkan adonan menjadi kacau. Disarankan jika kita hendak mengubah formula lama semisalnya untuk memperbaiki tekstur, lebih baik merubah jumlah bahan jangan lebih dari 2 macam bahan. Semakin banyak bahan yang dirubah pada satu percobaan, kita akan semakin bingung di mana letak kesalahannya jika hasil tidak sesuai yang diinginkan.


3. secara cepat memberikan informasi apakah formula tersebut berimbang dengan benar

Contoh dari perbandingan proporsi, misalnya penggunaan garam biasanya dalam adonan roti berpatokan tidak lebih dari 2% dari jumlah tepung. Selain itu penggunaan air untuk hidrasi bahan-bahan dapat dilihat apakah adonan ini merupakan adonan yang keras atau yang lunak, seperti contohnya 40% atau 60% air dari jumlah tepung.


4. memberikan ancar-ancar yang terarah tanpa tebak-tabakan untuk mengetahui hasil akhir

Keterangan seperti pada nomer 2 dan 3.


5. memberikan pengertian bagaimana para professional (dan banyak pula para amatir) mendiskusikan formula mereka

BsP menggunakan berat tepung sebagai 100% dan bahan-bahan lainnya dihitung sebagai proporsi dari tepung tersebut. Contoh bahan-bahan yang biasanya dikategorikan sebagai tepung utama adalah tepung terigu putih, tepung terigu wholemeal, tepung rye dan semolina. Jika menggunakan lebih dari satu jenis tepung, contohnya tepung terigu dan tepung rye, jumlah tepung-tepung ini adalah 100%, misalnya tepung terigu = 60% dan tepung rye = 40%.

Jika kita menggunakan lebih dari satu bahan hidrasi seperti air, sari buah dan susu cair, bahan-bahan tersebut dikelompokan menjadi satu untuk penghitungan hidrasi. Misalnya jumlah bahan hidrasi 50%, jika kita menggunakan air dan sari buah, formula tersebut akan tertulis sebagai contohnya air = 40% dan sari buah = 10%. Begitu pula jika kita menggunakan telur, bahan ini harus diperhitungkan sebagai bahan hidrasi. Jika tidak, adonan dapat menjadi terlalu lunak untuk formula roti tersebut.


Contohnya jika kita mau membuat 500g roti berdasarkan berat tepung:

Baker’s Percentage Dalam ukuran berat
Tepung terigu 95% 475g
Tepung rye 5% 25g
Garam 2% 10g
Ragi 0.8% 4g
Air 50% 250g

Lalu, bagaimana mengkorversi resep dengan satuan berat ke BsP? Caranya mudah sekali.

Resep BsP
Tepung terigu 600g = (600/700)*100% = 85.7%
Tepung rye 100g = (100/700)*100% = 14.3%
Garam 8g = (8/700)*100% = 1.1%
Ragi 5g = (5/700)*100% = 0.7%
Air 300g = (300/700)*100% = 42.9%


Untuk tantangan ke14 ini, kita menggunakan BsP untuk straight method, tidak menggunakan preferment karena hitungan BsP akan sedikit berbeda dengan adanya dua hitungan. Pembahasan dengan preferment akan dilakukan pada saat tantangan dengan preferment.

Disusun oleh Regina Budiardjo



Jangan panik dulu… Baker’s Percentage mudah koq, tidak sesulit yang dibayangkan.

Baker’s Percentage (BsP) adalah cara penghitungan yang biasa dipakai oleh para professional bread baker. Mereka biasanya tidak menggunakan istilah resep tetapi menggunakan istilah formula. Formula ini menunjukkan proporsi dasar bahan-bahan, terhitung dan diekspresikan sebagai hitungan persen walaupun BsP bukan merupakan hitungan persentasi sebenarnya yang jumlah total adalah 100%. BsP ini menghitung bahan-bahan baik kering atau basah dalam satuan berat, baik metric atau imperial. BsP menggunakan berat tepung sebagai acuan dasarnya.

Keuntungan dari penggunaan BsP ini dengan sekali melihat, BsP:
1. memudahkan untuk memperbesar atau memperkecil jumlah bahan sesuai yang dibutuhkan

Penggunaan BsP ini dapat diterapkan secara langsung dan mudah sekali. Ukuran dari formula dapat dikali atau dibagi sesuai kebutuhan dan langsung menggunakan satuan ukuran berat. BsP dapat dikalikan langsung dan diganti dengan ukuran satuan berat. Di dalam proses industri, biasanya ukuran besar seperti dalam kg. Misalnya kita hendak membuat roti dengan ukuran tepung 25kg, BsP tersebut tinggal dibagi menjadi empat dan berat dalam satuan kg.

Terkecuali, jika berat salah satu bahan terlalu kecil untuk timbangan kita, mau tak mau, kita harus menggunakan ukuran sendok teh atau makan dan berat tersebut dapat dikonversikan menjadi ukuran volume. Cara lainnya yang dapat dilakukan, jika timbangan minimum 10g dan kita hanya butuh 2g, kita dapat menimbang bahan tersebut seberat 10g dan membagi 5. Selama bahan tersebut bukan bahan kritikal seperti pengawet, perbedaan sedikit pada berat tidak akan berpengaruh banyak terhadap hasil akhir.


2. membandingkan formula yang berbeda tanpa harus menghitung proporsi lagi karena berdasarkan satu dasar hitungan, yaitu berat tepung

Jika kita sedang membuat formula baru untuk product development dan formula tersebut berdasarkan formula lama/dasar, kita bisa menambah atau mengurangi berat bahan dengan mengetahui bahwa berat tersebut tidak akan menyebabkan adonan menjadi kacau. Disarankan jika kita hendak mengubah formula lama semisalnya untuk memperbaiki tekstur, lebih baik merubah jumlah bahan jangan lebih dari 2 macam bahan. Semakin banyak bahan yang dirubah pada satu percobaan, kita akan semakin bingung di mana letak kesalahannya jika hasil tidak sesuai yang diinginkan.


3. secara cepat memberikan informasi apakah formula tersebut berimbang dengan benar

Contoh dari perbandingan proporsi, misalnya penggunaan garam biasanya dalam adonan roti berpatokan tidak lebih dari 2% dari jumlah tepung. Selain itu penggunaan air untuk hidrasi bahan-bahan dapat dilihat apakah adonan ini merupakan adonan yang keras atau yang lunak, seperti contohnya 40% atau 60% air dari jumlah tepung.


4. memberikan ancar-ancar yang terarah tanpa tebak-tabakan untuk mengetahui hasil akhir

Keterangan seperti pada nomer 2 dan 3.


5. memberikan pengertian bagaimana para professional (dan banyak pula para amatir) mendiskusikan formula mereka

BsP menggunakan berat tepung sebagai 100% dan bahan-bahan lainnya dihitung sebagai proporsi dari tepung tersebut. Contoh bahan-bahan yang biasanya dikategorikan sebagai tepung utama adalah tepung terigu putih, tepung terigu wholemeal, tepung rye dan semolina. Jika menggunakan lebih dari satu jenis tepung, contohnya tepung terigu dan tepung rye, jumlah tepung-tepung ini adalah 100%, misalnya tepung terigu = 60% dan tepung rye = 40%.

Jika kita menggunakan lebih dari satu bahan hidrasi seperti air, sari buah dan susu cair, bahan-bahan tersebut dikelompokan menjadi satu untuk penghitungan hidrasi. Misalnya jumlah bahan hidrasi 50%, jika kita menggunakan air dan sari buah, formula tersebut akan tertulis sebagai contohnya air = 40% dan sari buah = 10%. Begitu pula jika kita menggunakan telur, bahan ini harus diperhitungkan sebagai bahan hidrasi. Jika tidak, adonan dapat menjadi terlalu lunak untuk formula roti tersebut.


Contohnya jika kita mau membuat 500g roti berdasarkan berat tepung:

Baker’s Percentage Dalam ukuran berat
Tepung terigu 95% 475g
Tepung rye 5% 25g
Garam 2% 10g
Ragi 0.8% 4g
Air 50% 250g

Lalu, bagaimana mengkorversi resep dengan satuan berat ke BsP? Caranya mudah sekali.

Resep BsP
Tepung terigu 600g = (600/700)*100% = 85.7%
Tepung rye 100g = (100/700)*100% = 14.3%
Garam 8g = (8/700)*100% = 1.1%
Ragi 5g = (5/700)*100% = 0.7%
Air 300g = (300/700)*100% = 42.9%


Untuk tantangan ke14 ini, kita menggunakan BsP untuk straight method, tidak menggunakan preferment karena hitungan BsP akan sedikit berbeda dengan adanya dua hitungan. Pembahasan dengan preferment akan dilakukan pada saat tantangan dengan preferment.

Disusun oleh Regina Budiardjo


Recipe White Bread, variation 1
Source: The Bread Baker’s Apprentice by Peter Reinhart, 2001, page 265-267

Ingredients Baker’s Percentage
Bread flour 100
Salt 1.8
Granulated sugar 7.7
Powdered milk (Dried Milk Solid) 6.2
Instant yeast 1
Egg, slightly beaten at room temperature 7.7
Butter, room temperature 7.7
Water 62.8

Methods :
(Indonesian)

1. Campur tepung, garam, susu bubuk, gula dan ragi di dalam mangkuk dengan volume 4 quart (atau gunakan mangkuk mixer). Tuangkan telur, mentega dan air, aduk dengan sendok metal yang besar (atau pakai mixer dengan kecepatan rendah menggunakan paddle attachment) hingga tepung tercampur rata dengan bahan cair tadi dan adonan membentuk bulatan bola. Jika adonan tampak keras dan kering, ciprati dengan air hingga adonan lunak dan fleksibel.
2. Taburkan tepung ke atas meja kerja, letakkan adonan di atasnya, dan mulai menguleni (atau kocok dengan kecepatan sedang memakai dough hook), tambahkan tepung jika perlu, untuk menghasilkan adonan yang lunak, fleksibel, dan tacky (sudah licin dan kering) tapi tidak lengket. Lanjutkan menguleni (atau mengaduk dengan mixer) selama 6-8 menit. (jika menggunakan mixer, adonan harusnya sudah lepas dari mangkuk, tidak lengket di dasarnya). Adonan harus lulus windowpane test (tes elastisitas adonan dengan mengambil sedikit bagian adonan dan dipentangkan di depan jendela/cahaya) dan bersuhu 80F. Siapkan mangkuk besar, olesi minyak tipis saja, letakkan adonan ke dalam mangkuk, gulingkan ke sisi-sisi mangkuk untuk melumasi adonan dengan minyak. Tutup mangkuk dengan plastik.
3. Biarkan adonan mengembang dalam suhu ruang selama 1.5 hingga 2 jam, atau hingga adonan mengembang dua kali lipat (durasi waktu pengembangan adonan bergantung kepada suhu ruangan tersebut).
4. Keluarkan adonan dari mangkuk dan bagi dua buah ukuran roti sandwich, menjadi 18 x 2ons dinner rolls, atau 12 x 3ons burger atau hot dog buns. Bentuklah bagian-bagian tersebut menjadi bola-bola untuk satu roti tawar iris atau bulatan-bulatan untuk dinner rolls/buns. Lembabkan adonan dengan spray oil tipis-tipis saja dan tutup dengan serbet dapur atau plastik. Biarkan selama 20 menit.
5. Shaping. Untuk roti tawar iris, bentuklah seperti membuat bolu gulung tetapi cubitlah bagian lipatannya dengan setiap putaran untuk menguatkan permukaannya. Tutuplah lipatan terakhir dengan mencubit seam menggunakan bagian tepi belakang tangan atau jempol anda. Olesi tipis dua loyang roti berukuran 8.5 x 4.5 inci dan letakkan adonan ke dalam kedua loyang tersebut. Untuk rolls dan buns, alasi 2 loyang dengan baking paper. Rolls tidak memerlukan shaping lebih lanjut. Untuk hot dog buns, bentuklah adonan berbentuk pistol tanpa mengecilkan ujungnya. Pindahkanlah rolls atau buns ke atas loyang.
6. Lembabkan permukaan adonan dengan spray oil dan tutup dengan plastik atau serbet dapur. Tidak usah terlalu rapat menutupnya. Biarkan adonan mengembang di suhu ruangan selama 60 - 90 menit, atau hingga adonan hampir mengembang dua kali lipat.
7. Panaskan oven 350F untuk loaves atau 400F untuk rolls dan buns. Olesi rolls atau buns dengan egg wash dan hiasi dengan poppy atau sesame seeds. Roti sandwich juga bisa diolesi dengan egg wash dan dihias, atau iris bagian tengahnya dan olesi minyak sayur sedikit di bagian irisan yang terbuka.
8. Panggang rolls dan buns selama kurleb 15 menit, atau hingga kuning kecoklatan dan bersuhu sedikit lebih tinggi dari 180F di tengahnya. Panggang loaves selama 35-45 menit, jika perlu, putar 180 derajat di tengah waktu baking untuk memastikan pematangan yang rata. Permukaan roti harusnya berwarna kuning kecoklatan dan tepinya kekuningan jika dikeluarkan dari loyang. Suhu di dalam roti semestinya mendekati 190F, dan roti berbunyi kopong ketika diketuk-ketuk dasarnya.
9. Cooling. Jika roti sudah selesai dipanggang, keluarkan segera dari loyang dan dinginkan di atas rak pendingin selama kurang lebih 1 jam sebelum diiris-iris atau disajikan. Rolls seharusnya akan dingin sekurang-kurangnya 15 menit saat didinginkan di atas rak.

Mudah-mudahan laporan kali ini melegakan para host KBB...hehehe, masih banyak kurangnya siy, makanya mau staytune terus di KBB biar makin banyak info dan ilmu baking yang bisa didapet. Sampe ketemu di tantangan KBB#15 yaaa..... !!!!
 
5 Comments:


At 04 December, 2009, Blogger Arfi Binsted

well done ya Tyas hehehe...

 

At 04 December, 2009, Blogger MiNDY

bagus sekali hasilnya

 

At 05 December, 2009, Blogger Ine Sena

sakses teh... member teladan, nomer 1 entrynya... hihihi...

 

At 10 December, 2009, Blogger anisna

hebat euy hasilnya.......